callme

Bismillah HirrohmanirRokhim

Let's GO!!!!

Tuesday, November 16, 2010

Desain kurikulum

Desain Kurikulum
Dalam teori kurikulum terdapat dua dimensi utama yaitu: desain kurikulum dan kurikulum engineering, menurut George A. Beauchamp (1975:101)”….Curriculum design may be defined as the substance and organization of goal and culture content so arranged as to reveal potential progression through levels of schooling. (Desain kurikulum bisa digambarkan sebagai unsur pokok, komponen hasil atau sasaran dan kultur yang membudaya).
Menurut Oemar Hamalik (1993) pengertian desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington (1984) dalam  Hamalik (2007) mengemukakan bahwa desain kurikulum adalah pengembangan proses perencanaan, validasi, implementasi, dan evaluasi kurikulum.
Menurut Nana S. Sukmadinata (2007:113) desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.
a.  Prinsip-prinsip dalam mendesain Kurikulum
Ketika  akan mendesain kurikulum, dosen harus memahami prinsip-prinsip yang digunakan dalam mendesain kurikulum. Prinsip-prinsip tersebut menurut Saylor (dalam Hamalik, 2007) meliputi:

1).    Desain kurikulum harus memudahkan dan mendorong seleksi serta pengembangan semua jenis pengalaman belajar yang esensial bagi pencapaian prestasi belajar, sesuai dengan hasil yang diharapkan.
2).    Desain memuat berbagai pengalaman belajar yang bermakna dalam rangka merealisasikan tujuan–tujuan pendidikan, khususnya bagi kelompok peserta didik yang belajar dengan bimbingan dosen;
3).    Desain harus memungkinkan dan menyediakan peluang bagi dosen untuk menggunakan prinsip-prinsip belajar dalam memilih, membimbing, dan mengembangkan berbagai kegiatan belajar di lembaga pendidikan;
4).    Desain harus memungkinkan dosen untuk menyesuaikan pengalaman dengan kebutuhan, kapasitas, dan tingkat kematangan peserta didik
5).    Desain harus mendorong dosen mempertimbangkan berbagai pengalaman belajar anak yang diperoleh diluar lembaga pendidikan dan mengaitkannya dengan kegiatan belajar di lembaga pendidikan;
6).    Desain harus menyediakan pengalaman belajar yang berkesinambungan, agar kegiatan belajar peserta didik berkembang sejalan dengan pengalaman terdahulu dan terus berlanjut pada pengalaman berikutnya;
7).    Kurikulum harus di desain agar dapat membantu peserta didik mengembangkan watak, kepribadian, pengalaman, dan nilai-nilai demokrasi yang menjiwai kultur; dan
8).    Desain kurikulum harus realistis, layak, dan dapat diterima.

b.  Macam-macam Pola Disain Kurikulum
Pola disain kurikulum terbagi menjadi tiga, yaitu:
1).    Subject centered design. Variasinya meliputi:
a)      The subject design
b)      The disciplines design
c)   The broad fields design
2).    Learner centered design. Variasinya meliputi :
a)  The activity or experience design
b)    Humanistic design
c)  The open free design
3).    Problems centered design. Variasinya meliputi:
a)      The areas of living design
b)      The core design
Secara rinci akan penulis uraikan sebagai berikut:
1). Subject Centered Design
Subject centered design curriculum merupakan bentuk desain yang paling popular, paling tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centered design, kurikulum dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata kuliah, dan mata kuliah tersebut diajarkan secara terpisah-pisah. Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini  disebut juga separated subject curriculum.
Kelebihan dari disain ini adalah kurikulum mudah disusun, mudah untuk dilaksanakan, dievaluasi dan disempurnakan. Bagi dosen juga tidak memerlukan persiapan secara khusus ketika akan mengajar.
Sementara kelemahannya, peserta didik cenderung menjadi pasif karena yang lebih banyak aktif dosennya, pengajaran yang terpisah-pisah mengakibatkan pengetahuan peserta menjadi parsial, tidak komprehensif.
a)       the subject design.
the subject design curriculum merupakan bentuk design yang paling murni dari subject centered design. Materi kuliah disajikan secara terpisah-pisah dalam bentuk mata kuliah-mata kuliah.  Isi kuliah diambil dari pengetahuan dan nilai-nilai yang telah ditemukan oleh ahli-ahli sebelumnya, sehingga peserta didik dituntut menguasai semua pengetahuan yang diberikan.
Adapun kelebihan dari the subject design curriculum yaitu 1) penyusunannya cukup mudah, 2) mudah juga untuk dilaksanakan, 3) dapat dilaksanakan efisien, 3 ) dapat dilaksanakan secara efisien, 4) sangat sesuai untuk melestarikan budaya masa lalu.
Sementara kelemahannya meliputi  1) kurikulum memberikan pengetahuan terpisah-pisah, satu terlepas dari yang lainnya, 2) out of date, 3) Isi kurikulum disusun berdasarkan sistematika ilmu sehingga sering menimbulkan kesukaran di dalam mempelajari dan menggunakannya, 4) Kurang memperhatikan cara penyampaian
b)       the disciplines design
Bentuk ini merupakan pengembangan dari subject design, keduanya masih menekankan pada isi atau materi kurikulum. Walaupun bertolak dari hal yang sama tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Pada subject design belum ada criteria yang tegas tentang apa yang disebut subject (ilmu). Pada disciplines design kriteria tersebut telah tegas, yang membedakan apakah suatu pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan  batang tubuh keilmuannya. Untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah discipline. Dalam pola ini, peserta didik didorong untuk memahami logika atau struktur dasar suatu disiplin, memahami konsep-konsep, ide-ide dan prinsip-prinsip penting, juga didorong utuk memahami cara mencari dan menemukan sesuatu sehingga dalam proses belajar lebih sering menggunakan pendekatan inkuiri dan discovery.
Adapun kelebihan dari discipline design adalah: 1) Kurikulum ini bukan hanya memiliki organisasi yang sistematik dan efektif tetapi juga dapat memelihara integritas intelektual pengetahuan manusia, 2)  Peserta didik tidak hanya menguasai serangkaian fakta, prinsip hasil hafalan tetapi menguasai konsep, hubungan dan proses-proses intelektual yang berkembang pada peserta didik.
Kelemahannya, meliputi: 1) Belum dapat memberikan pengetahuan yang terintegrasi, 2)Belum dapat mengintegrasikan lembaga pendidikan dengan masyarakat atau kehidupan, 3)Belum mampu bertolak dari minat dan kebutuhan atau pengalaman peserta didik, 4) Susunan kurikulum belum efisien baik untuk kegiatan belajar maupun untuk penggunannya, 5) Meskipun sudah lebih luas dibandingkan dengan subject design tetapi secara akademis dan intelektual masih cukup sempit.
c)     the broad fields design
Dalam model ini mereka menyatukan beberapa mata kuliah yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang studi seperti sejarah, geografi dan ekonomi digabung menjadi ilmu pengetahuan sosial; aljabar, ilmu ukur dan berhitung menjadi matematika. Tujuan pengembangan kurikulum broad fields adalah menyiapkan para peserta didik yang dewasa ini hidup dalam dunia informasi yang spesifiktis, dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh.
Adapun kelebihan pola ini yaitu: 1) Karena dasarnya bahan yang terpisah-pisah, walaupun sudah terjadi penyatuan beberapa mata kuliah masih memungkinkan penyusunan warisan-warisan secara sistematis dan teratur,dan 2)  Karena mengintegrasikan beberapa mata kuliah memungkinkan peserta didik melihat hubungan antara berbagai hal.
Kelemahannya meliputi: 1) Kemampuan menguasai bidang yang lebih luas, sulit tercapai, 2)  Karena bidang yang dipelajari itu luas, maka tidak dapat diberikan secara mendetail, yang diajarkannya hanya permukaannya saja, 3) Pengintegrasian bahan ajar sangat terbatas, tidak menggambarkan kenyataan, tidak memberikan pengalaman yang sesungguhnya bagi peserta didik, dengan demikian kurang membangkitkan minat belajar. 4) Meskipun kadarnya lebih redah dibandingkan dengan subject design tetapi model ini tetap menekankan tujuan penguasaan bahan dan informasi. Kurang menekankan proses pencapaian tujuan yang sifatnya afektif dan kognitif tingkat tinggi.

2). Learned Centered Design
Learned Centered Design bersumber dari konsep Rousseau tentang pendidikan alam, menekankan perkembangan peserta didik. Pengorganisasian kurikulum didasarkan atas minat, kebutuhan, dan tujuan peserta didik.
Sebagai reaksi dan penyempurnaan terhadap kelemahan subject centered design, ciri utama yang membedakan desain model ini dengan subject centered yaitu:
a)       Learner centered design mengembangkan kurikulum dengan bertolak dari peserta didik dan bukan dari isi.
b)      Learner centered design bersifat non-preplanned (kurikulum tidak diorganisasikan sebelumnya) tetapi dikembangkan bersama antara dosen dengan peserta didik dalam penyelesaian tugas-tugas pendidikan.
Kekuatan dari desain ini adalah 1) motivasi belajar peserta didik bersifat intrinsik tidak perlu dirangsang dari luar,  2) pengajaran memperhatikan perbedaan individual, 3) kegiatan pemecahan masalah merupakan bekal untuk menghadapi kehidupan di luar lembaga pendidikan.
Adapun kelemahannya yakni,  1) penekanan pada minat belum tentu cocok untuk menghadapi kenyataan riil, 2) dasar penyusunan struktur kurikulum tidak jelas karena kurikulum hanya menekankan pada minat peserta didik, 3) lemah dalam kontinuitas dan sekuens bahan, 4) tidak dapat diimplementasikan oleh dosen biasa, harus dosen khusus.
Ada beberapa variasi dalam model ini yaitu The activity or experience design, Humanistic design, dan The open free design.
1)                              The activity or experience design
Berikut beberapa ciri utama The activity or experience design.  Pertama, struktur kurikulum ditentukan oleh kebutuhan dan minat peserta didik. Kedua, karena struktur kurikulum didasarkan atas minat dan kebutuhan peserta didik, maka kurikulum tidak dapat disusun menjadi sebelumnya, tetapi disusun dosen sebelumnya dengan para peserta didik. Ketiga, desain kurikulum tersebut menekankan prosedur pemecahan masalah.

3).  The Problem Centered Design
The Problem centered design merupakan desain kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi masyarakat (Nana S, 2005: 113).
Desain kurikulum ini berangkat dari asumsi bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang selalu hidup bersama. Konsep ini menjadi landasan dalam pendidikan dan pengembangan kurikulum, dan isi kurikulum berupa masalah-masalah sosial yang dihadapi peserta didik sekarang dan akan datang, sedangkan tujuan disusun berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik.
Berbeda dengan learner centered, kurikulum mereka disusun sebelumnya (preplanned) yang berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik. Problem centered design menekankan pada isi maupun peserta didik.
Ada dua variasi model desain kurikulum ini:
a)  The areas of living design.
 Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process objectives) dan yang bersifat isi (content objectives) diintegrasikan. Penguasaan informasi-informasi yang lebih bersifat pasif tetap dirangsang. Ciri lain dari model desain ini adalah menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari peserta didik sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan, mengintegrasikan antara subject dengan problema kehidupan sosial dan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.
Kelebihan variasi dari the areas of living adalah: 1) Model ini merupakan the subject matter design  tetapi dalam bentuk yang terintegrasi, 2) Model ini mendorong penggunaan prosedur belajar pemecahan masalah, 3) Menyajikan bahan ajar dalam bentuk yang relevan dan fungsional, dan 4) Motivasi belajar datang dari dalam peserta didik.
Sementara kekurangannya meliputi: 1)Penentuan lingkup dan sekuens dari bidang-bidang kehidupan yang sangat esensial sangat sukar, 2) Lemahnya atau kekurangannya integritas dan kontinuitas organisasi kurikulum, 3) Mengabaikan warisan budaya, 4) Kecenderungan untuk mengindoktrinisasi peserta didik dengan kondisi yang ada, dan 5) Dosen maupun buku dan media lain tidak banyak yang disiapkan dengan model tersebut
b)     The core design.
Desain kurikulum ini timbul sebagai reaksi utama kepada separate subjects design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan bahan ajar, mereka memilih mata kuliah/bahan ajar tertentu sebagai inti atau core. Kuliah lainnya dikembangkan disekitar core tersebut. Karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang teori tentang core design yang didasarkan atas pandangan progresif. Menurut konsep ini inti bahan ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan social. Ciri utama pada desain adalah mengintegrasikan beberapa mata kuliah sebagai inticore yang ditujukan untuk pengembangan pribadi.
Terdapat banyak variasi pandangan tentang the core desain. Mayoritas memandang the core design  sebagai suatu model pendidikan atau program pendidikan yang memberikan pendidikan umum. The core design diberikan kepada dosen-dosen yang memiliki penguasaan dan berwawasan luas, bukan spesialis. Variasi the core design :
1).  The sparate subjects core
yaitu beberapa mata kuliah yang dipandang mendasari atau menjadi inti mata kuliah lainnya dijadikan core
2).       The correlated core
 The correlated core ini merupakan perkembangan selanjutnya dimana dengan mengintegrasikan beberapa mata kuliah yang erat hubungannya
3)     The fused core
yaitu pengintegrasiannya bukan hanya antara dua atau tiga kuliah tetapi lebih banyak
4).   The activity core
model ini berkembang dari pendidikan progresif dengan learner centerd design yaitu bahan ajar dipusatkan pada minat-minat dan kebutuhan peserta didik.
5).   The areas of living core
model ini berkembang dari pendidikan progresif, tetapi organisasinya berstruktur dan dirancang sebelumnya, berbentuk pendidikan umum yang isinya diambil dari masalah-masalah yang muncul dimasyarakat.
6).    The social problems core
yaitu model desain yang didasarkan pada problem-problem yang mendasar dan bersifat kontroversial. Dalam model ini mencoba memberikan penilaian yang sifatnya kritis dari sudut sistem nilai sosial dan pribadi yang berbeda
Masing-masing desain tersebut dikembangkan menjadi suatu rancangan kurikulum yang memuat unsur-unsur pokok kurikulum yaitu: tujuan, isi, pengalaman belajar, dan evaluasi yang sesuai dengan inti setiap model desain.

2 comments:

  1. Mana daftar pustakanya. sebaiknya anda kasih Daftar Pustaka agar jelas rujukannya. saran saja agar lebih baik nanti kalau ada yang copy dan ingin mencari bukunya dapat dipertanggung jawabkan keilmiahannya.

    ReplyDelete

Share it